MEMULIAKAN ANAK
Oleh: Hamas Ichsan LPA Jawa Barat

Tujuan Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang–Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yaitu:

“Terwujudnya Anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera”.

Untuk mencapai tujuan dimaksud diperlukan sikap dan perilaku masyarakat, keluarga, khususnya orang tua agar mereka menunjukkan perbuatan atau tindakan yang memuliakan anak-anaknya dengan cara menempatkan anak-anaknya pada posisi yang tinggi dan terhormat. Dengan demikian pengertian memuliakan anak dalam tulisan ini yaitu perbuatan atau perilaku orang tua dan orang dewasa lainnya yang menjadikan anak-anak sebagai seseorang yang memiliki kedudukan terhormat. Perilaku seperti ini harus dimiliki oleh orang tua, berkaitan dengan posisi anak sebagai rahmat dan amanah dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa. Sebagai rahmat, anak merupakan pemberian atau anugrah dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa bagi keluarga yang dikehendakinya. Sehubungan dengan rahmat tersebut di atas, Allah menanamkan rasa kasih sayang dalam hati orang tua sebagai alat dan cara untuk merawat, mendidik dan meindungi anak-anaknya. Anak dikatakan sebagai amanah, karena orang tua mendapat tugas atau kewajiban dari Allah guna merawat, mengasuh, membesarkan dan mendidik anak, sehingga mereka mampu mengemban dan melakukan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi kelak ketika dewasa. Dengan demikian, orang tua tidak boleh mengabaikan tanggung jawabnya dalam menyiapkan anak-anaknya sebagai generasi penerus masa depan bangsa yang salah satu caranya yaitu menyediakan kesempatan dan memposisikan anak pada kedudukan terhormat.

Selain itu, alasan lain mengapa perbuatan memuliakan anak itu harus di intensifkan dikarenakan akhir-akhir ini banyak terjadi kasus-kasus yang merendahkan martabat anak yang dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka dalam hal ini oleh orang tuanya. Oleh karena itu perlakuan memuliakan anak merupakan cara agar orang tua menyadari dan meningkatkan fungsi serta tugas-tugas keorangtuaanya secara baik dan benar. Mudah-mudahan saja kondisi seperti ini akan memacu dan memicu orang tua agar mereka terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keorangtuaannya di era globalisasi yang penuh dengan tuntutan, tantangan dan ancaman ini.

Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha secara sadar dan sistematis dari orang tua agar mereka melakukan perbuatan secara sungguh-sungguh untuk menempatkan anak-anaknya pada posisi terhormat, yang bagi sebagian orang tua berpikiran picik kemungkinan besar mereka akan ragu melakukannya.

Keraguan seperti tersebut di atas tak perlu terjadi jika kita menelusuri sejarah peradaban Islam ribuan tahun silam mengenai sikap dan perilaku seorang manusia pilihan Muhammad shollalloohu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi, Rasul, dan pemimpin umat Islam saat itu yang sangat memuliakan anak-anak, baik dari keturunan beliau maupun anak-anak orang lain. Banyak kisah yang diriwayatkan oleh para sahabat beliau yang membuktikan betapa Rasululloh shollalloohu ‘alaihi wa sallam telah menempatkan anak-anak pada kedudukan yang terhormat saat itu, yang sengaja penulis kemukakan contoh-contohnya agar menjadi teladan bagi kita para orang tua sekarang ini.

Merujuk kepada prinsip-prinsip perlindungan anak, penulis mengemukakan beberapa perilaku orang tua yang dapat dikatakan memuliakan anak-anaknya secara efektif diantaranya:

Pertama, menerima dan mengakui keberadaan anak.
Menerima anak apa adanya merupakan perilaku atau kemampuan orang tua untuk menyambut/menerima anugerah anak dari Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya disertai rasa syukur, tulus dan ikhlas. Situasi penerimaan seperti ini biasanya berlanjut kepada timbulnya pengakuan terhadap eksistensi anak apa adanya. Bagaimanapun keadaan anak, orang tua secara ikhlas menerimanya dan siap mengakui keberadaanya. Hal seperti ini menunjukkan pengakuan dan penghargaan atas martabat anak sebagai pribadi dan subjek yang terhormat dan sangat berarti baik bagi orang tuanya maupun lingkungannya.

Berkaitan dengan hal yang pertama ini ada kisah yang diriwayatkan oleh Abdul Aziz ketika Rasululloh berdiri langsung menyambut kedatangan cucunya Hassan dan Husein yang masih kanak-kanak serta menggendongnya dengan pelukan hangat beliau. Contoh lain kisah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa jika Rasululloh bersua anak-anak, maka beliaulah yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepada anak-anak. (M. Reysyahri, 2009)

Kedua, menyayangi dan memenuhi hak-hak anak.
Menyayangi anak merupakan naluri orang tua sepanjang hayatnya. Sejak dalam kandungan, ketika masa bayi, masa remaja sampai dengan dewasa kasih orang tua kepada anaknya terus berlangsung tiada henti.

Kasih sayang berkaitan erat dengan pemenuhan hak-hak anak, bahkan dapat dikatakan bahwa pemenuhan kebutuhan hak anak merupakan bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya. Pada umumnya orang tua yang memiliki kasih sayang yang tinggi akan memenuhi kebutuhan dan dan hak anaknya secara baik dan optimal. Orang tua akan berusaha dengan sungguh-sungguh agar anaknya mendapatkan sesuatu yang berkualitas tinggi dengan harapan membahagiakan anaknya. Perilaku seperti ini dalam pandangan pendidikan Islam penting dilakukan ketika anak memasuki usia 7 tahun pertama (0-7 tahun) yang harus mendapatkan kasih sayang secara sempurna dari orang tuanya. Pada usia seperti ini anak bagaikan raja yang harus mendapatkan pelayanan secara memadai.

Adapun hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua tercantum pada UU RI tersebut di atas yang telah dikemukakan di awal tulisan ini dapat dikelompokan kedalam ; hak  memperoleh identitas, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dan hak berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya.

Contoh yang patut diteladani dalam hal menyayangi anak, diriwayatkan oleh Walid bin Uqbah yaitu ketika Rasulullah membebaskan Mekkah dari kaum musrikin. Ketika itu penduduk Mekkah bersama anak-anaknya menemui Rasululloh. Beliau mengusap-usap kepala anak-anak mereka serta mendoakannya. (M. Reysyahri, 2009)

Ketiga, tidak membeda-bedakan anak.
Tidak membeda-bedakan anak merupakan tindakan memuliakan anak dalam hal memperlakukan anak-anak, yang didasari hakikat anak sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki martabat, hak dan kesempatan yang sama. Perlakuan membeda-bedakan anak dalam hal apapun (suku, ras, agama, jenis kelamin dan sebagainya) merupakan tindakan yang merendahkan martabat anak, yang akan memperlebar jurang sosial, rasa curiga dan permusuhan. Sebaliknya jika orang tua memposisikan anak pada kesetaraan membuat mereka memiliki rasa kebersamaan, kepercayaan diri, bersahabat dan toleransi.

Berkaitan dengan nondiskriminasi secara gender, ada hikayat yang menarik yaitu ketika Rasululloh mendapat berita kelahiran bayi perempuan. Beliau memperhatikan wajah para sahabat yang menunjukkan kebencian. Beliau merasa heran melihat sikap para sahabatnya itu, padahal anak perempuan menurut beliau adalah seperti bunga yang beliau suka menciumnya dan rejekinya ditangan Allah. (M. Reysyahri, 2009) Pernyataan Rasululloh tersebut menjadi bukti bahwa beliau sebagai pelopor non diskriminasi jauh sebelum terbitnya Konvensi Hak Anak yang disyahkan oleh PBB tahun 1989 dan UU RI No.35 tahun 2014.

Keempat, menghargai pandangan anak.
Mengenai pandangan anak, kadang-kadang sumber lain menyebutnya pendapat anak. Berkaitan dengan hal ini masih ada sebagian orang tua yang beranggapan bahwa anak adalah manusia kecil, tidak tahu apa-apa dan kurang pengalaman sehingga orang tua dan orang dewasa lainnya meragukan anak dalam hal berpendapat. Pandangan under estimate seperti ini menjadikan anak-anak pada posisi direndahkan seolah-olah anak tidak memiliki arti dan selalu terpinggirkan. Kondisi seperti ini harus dirubah dengan cara perilaku orang tua harus membiasakan diri untuk mendengarkan dan bertukar pikiran dengan anaknya. Orang tua sedapat mungkin membuat suasana yang kondusif agar anak memiliki keberanian untuk mengeluarkan pendapatnya, sehingga anak memiliki wawasan dan pengalaman serta pembelajaran bagi dirinya. Menghargai pendapat anak menjadi penting karena jika hal ini dilakukan akan membawa anak kedalam situasi diakui, dihargai, dan memiliki kepercayaan diri sebagaimana orang terhormat.

Sehubungan dengan hal di atas, ada kisah yang diriwayatkan oleh Sahal bin Sa’ad dan diriwayatkan kembali oleh Buchori dan Muslim (Ibnu Anshori, 2006) bahwa ketika ada jamuan minum, Rasululloh telah mengabulkan pendapat sekaligus permohonan Abullah bin Abbas (yang pada waktu itu masih berusia anak-anak) yang memohon agar minuman pemberian Rasululloh untuk dirinya tidak diberikan kepada orang lain. Contoh di atas menunjukan bahwa Rasululloh sangat menghargai pendapat anak sebagai wujud dari perilaku memuliakan anak.

Berdasarkan uraian di atas, kita mengetahui bahwa seorang manusia panutan Muhamad S.A.W, sebagai Nabi dan Rasululloh yang tentunya menempati kedudukan sosial tinggi mau dan mampu berperilaku memuliakan anak-anak. Pertanyaanya “apakah kita sebagai manusia biasa bisa melakukannya?”. Jawabannya, mari kita coba dari mulai saat ini, diawali dengan memuliakan anak di lingkungan keluarga kita sendiri, yang selanjutnya berupaya memuliakan semua anak-anak dalam lingkungan yang lebih luas. Amin. “Hanya Allah yang maha mengetahui segala sesuatunya”.

LPA Jawa Barat
Bandung, Medio Juli 2018

Hamas Ichsan

Sumber bacaan:

  • Drs. Ibnu Anshori. SH. MA., Perlindungan Anak Dalam Agama Islam, KPAI, 2006
  • M. Reysyahri, Anak Di Mata Nabi, Al Huda, 2009